Setibanya di depan ruangan kelas......
"aduuh, Bu Aina udah masuk kelas lagi....hmmm....Bay, gima......" ucapanku yang sedang mengintip dari balik celah pintu, terpotong karena dengan seenak jidatnya Bayu mengetuk pintu ruangan kelas dan nyelonong masuk sambil mengucapkan salam pada Bu Aina. Bu Aina yang saat itu sedang menulis di papan tulis terhenti sejenak dan memandang ke arah ku dan Bayu. "Assalamu'alaikum Bu, maaf Bu saya dan Hana, datangnya telat” tepat pada saat itu juga kelas menjadi hening, heniiiing sekali tampak fenomena seperti di areal kuburan, dan seluruh perhatian penghuni kelas hanya terpaku pada kami berdua, bahkan bu Aina sendiri, terihat kaget melihat Bayu, inget bayu bukan kaget ngeliat aku, kalo aku sih jelas udah biasa telat, lah ini yang telat bayu si murid rajin, sedetik kemudian bu Aina pun menjawab salam dari Bayu “Waalaikum salam, Bayu kenapa kamu bisa telat? Tunggu dulu, Hana jangan-jangan kamu menularkan virus terlambat ya pada Bayu !” aku yang mendengar perkataan Ibu Aina, jelas kaget dan tidak terima atas tuduhannya kepadaku, dengan sigap aku pun membela diri “Eitts…maaf Bu, kalo masalah Bayu telat jangan sangkut pautin sama aku dong Bu, aku ga tau apa-apa kok disalahan Bu!” setelah mendengar pembelaanku Bu Aina tersenyum, dan mengizinkan kami berdua duduk. “maaf ya Hana, Ibu cuma takut aja Bayu sampe ketularan dari kamu….Ya sudah kalian berdua silahkan duduk !” aku pun segera duduk di dekat Dara teman sebangku ku.
Sehari setelah kejadian aku kesiangan bareng Bayu, untuk pertama kalinya Bayu mengirim sms padaku. Padahal sebelumnya Bayu mana pernah ngirim sms sama aku bahkan dia ga pernah sekalipun nanyain tentang tugas sama aku, dan begitupun hari berikutnya dan berikutnya lagi, aku jadi sering sms an dengan Bayu, bahkan kini sudah genap satu bulan aku sms an sama Bayu. Saat jam pelajaran terakhir kosong, akhirnya Aku bercerita tentang Bayu pada Dara teman baik ku. “cieee….yang lagi PDKT” itulah reaksi pertama Dara setelah kuceritakkan tentang Bayu “apaan sih Ra, lagian aku lagi nunggu seseorang !”, mendengar ucapanku Dara langsung menatapku dan mengerutkan keningnya. “kamu nunggu seseorang Na, siapa? Kamu kok ga pernah cerita sama aku !”. “sebenernya aku juga ga tau Ra, aku juga ga ngerti sama perasaan aku, dia itu sahabat aku dari kecil Ra, selama ini aku sama dia sering chattingan Ra, tapi semenjak Bayu, ngedeketin aku, dan aku sms an sama Bayu, akhir akhir ini aku juga jadi jarang berhubungan sama dia !”, aku pun menghela nafas panjang “yahh….terus gimana dong sama Bayu !” ucap Dara lesu “Lah emang Bayu kenapa, toh dia juga belum tentu suka kan sama aku !” jawabku.., “hmm…..kamu ga tau sih Na, sebenernya Bayu itu suka sama kamu Na……!” setelah mendengar ucapan Dara aku bener bener SHOCKED “apaaa…..serius kamu Ra?” tanyaku setengah berteriak, “yaa serius dong Na, orang Bayu sendiri yang bilang sama aku, selama dia tuh selalu nanya-nanyain tentang kamu terus sama aku !” mendengar semua uacapan Dara, aku sendiri hanya bengong, entah apa yang aku rasakan saat ini, kaget, bingung, galau, sedikit seneng, tapi di sisi lain, ahhh…entahlah semua nya jadi satu….Galauuu……. Teng Tong Teng Tong, bel tanda pelajaran berakhir pun berbunyi, aku melangakah keluar ruangan kelas dengan lesu, entah apa yang aku pikirkan saat ini, sungguh aku tak tahu.
Malamnya, aku pun hanya terdiam memikirkan kata-kata Dara siang tadi, tentang perasan Bayu, disaat itu pula ponsel ku pun berbunyi dan ternyata itu sms dari Bayu, kami pun ber sms an, sampai tepat pada pukul 22.00, Bayu mulai, menanyakan hal-hal yang aneh padaku, dia nanya-nanya kalo aku udah punya pacar atau belum, dan tak lama kemudian Bayu mengirimkan pesan yang berisi tentang pengutaraan perasaannya terhadapku…..Bayu nembak akuuu……, setelah 30 menit berlalu aku pun sama sekali belum membalas sms dari Bayu, saat itu aku benar-benar bingung…., sampai akhirnya ponselku berbunyi….terlihat layar ponselku bertuliskan Bayu Calling,….. ‘Oh no…bayu nelpon aku, haduuh aku harus gimana ini’ aku pun berjalan mondar mandir sambil memperhatikan layar ponselku, ‘angkat….enggaaa…angkat..engga haduuh….gimana’ akhirnya aku pun mencoba untuk mengangkat telpon dari Bayu, dengan dada yang berdegup kencang….’ha….hall…hallo…’ ucapku gemetar…’ha…hallo..nna..” ucap suara diseberang sana lebih gemetar.. “maa..maaf yaa na.. aku telpon kk…kamu malem-malem gini, aku cuma pengen tau, jawaban kamu na..!’ Deg…..jantungku berdebar lebih kencang dari biasanya….deg..deg..deg….”hmm.. Bay, kamu bercanda kan yaa…!” haduh pertanyaan bodoh macam apa itu…”enggaa na…….aku serius na, itu semua murni dari hati aku na..please jawab aku na….apapun jawaban dari kamu, aku akan terima kok…” Heniiiing……aku ga tau harus jawab apa…., namun akhirnya aku pun menarik nafas panjang, semoga ini keputusan yang tepat “Bay…..aku…………”
Kini genap 10 bulan aku bersama Bayu, dan pastinya jawaban aku malam itu adalah…’YA….aku terima Bayu’ selama itu pula kita banyak melalui hal-hal yang menyenangkan, dan selama ini pula kita ga pernah sedikitpun bertengkar, tapi selama aku sama Bayu pula, hubungan aku sama sahabat kecil ku Radit mulai merenggang, aku menjadi jarang sekali chattingan dengannya, ini bukan maksudku untuk mejauh darinya, tapi…..maaf…. Radit…
Sampai akhirnya belakangan ini hubungan antara aku dan Bayu pun tampaknya semakin jauh, akhir-akhir ini pun Bayu selalu sibuk dengan urusannya sendiri, entahlah aku mulai merasa ada yang berubah pada Bayu. Hingga akhirnya tepat seminggu setelah aku mulai merasakan perubahan dalam diri Bayu, Bayu mengakhiri hubungan kami.
Tahukah dia, sakit sekali rasanya…, mengapa Bayu bisa melakukan hal seperti ini padaku, namun walaupun rasanya sungguh sakit sekali aku mencoba kembali menyemangati diriku dan mulai mencoba untuk melupakan perasaanku terhadap Bayu dan untunglah juga, aku memiliki Dara dan Nara sahabat-sahabat ku yang selalu mensupport aku, yeaa they can make me smile again,…thank’s a lot friends….
Setelah kurang lebih 6 bulan setelah hubungan aku dan Bayu berakhir, aku pun kembali dekat dengan Radit, entah apa yang membuatku bisa kembali dekat dengan nya. Sebenarnya selama ini Radit juga dekat dengan sahabatku Nara, dan dari Nara pula aku mengetahui apa yang dirasakan Radit selama ini, dan ternyata secara tidak kusadari, aku telah menyakiti Radit karena selama ini pula Radit memendam perasaan padaku…, sungguh aku benar-benar merasa bersalah pada Radit. “Nara, aku harus gimana sama Radit !” kali ini aku bercerita kepada Nara, “Na, menurut pendapat aku, kamu minta maaf aja sama Radit, kalo Radit nanya kenapa kamu minta maaf, kamu bilang aja kalo ada sesuatu yang membuat kamu merasa bersalah sama Radit, dan satu lagi yang harus kamu tau Na, bahkan sampai saat ini perasaaan Radit sama kamu ga berubah Na, dia bilang sama aku kalo perasaannya ke kamu masih sama seperti dulu ga berkurang sedikitpun!” aku terdiam sejenak, dan bertanya pada diriku sendiri ‘masihkah perasaan yang dulu pernah kurasakan pada Radit ada, atau mungkin……’ “Na….” Nara membuyarkan semua lamunanku, “kamu kenapa Na” Tanya Nara kemudian “ngga kok aku ngga apa-apa, Nara kita pulang yuk, udah sore nih” ucapku mengalihkan pembicaraan, Nara pun menangguk mengiyakan. Malamnya, tanpa diduga Radit menelepon ke ponselku, aku pun segera mengangkatnya “Hallo Assalamu’alaikum Na…..” ucapnya diseberang sana, “waalaikum’salam, ada apa Dit?” entah kenapa saat itu aku pun mulai deg-degan, mengapa radit telpon aku..”Na, kamu keluar deh” deg…….haduuh tambah deg-degan aja jantungku..”nah loh emang ada apa dit?” suara Radit di seberang sana mulai gemetar ”eeeemm….kamu keluar aja deh Na, yah..yah..” Jlek…..Radit pun memutuskan telponnya, aku sendiri hanya bengong, namun setelah itu aku segera bergegas keluar rumah, untuk memastikan apa sebabnya Radit menyuruhku keluar rumah. Cleek…perlahan ku buka pintu rumahku, tak seorangpun yang dapat kutemukan, malah aku merinding karena malam itu sepi sekali, tapi setelah melihat kebawah, disana ada bungkusan kecil bersampul kertas merah, aku pun segera mengambilnya dan cepat-cepat masuk ke kamarku. Kemudian perlaan ku mulai membuka bungkusan kecil itu, dan ternyata isinya adalah coklat, aku pun tersenyum entah perasaan apa yang merasuki ku kali ini, tapi aku merasa bahagia. ‘Radiiiit…Radiit…’ ucapku, sambil memandangi coklat pemberiannya.
Setelah malam itu Radit memberi aku coklat, dia semakin sering menghubungiku meskipun selama ini kita berdua belum pernah bertemu sekalipun, bahkan Radit pun selalu menawarkan dirinya untuk mengantarkan ku ke sekolah, namun aku selalu menolaknya. Bukannya apa-apa, tapi untuk memulai membuka hatiku kembali sungguh tidak mudah bagiku, meskipun hatiku tidak bisa menampik bahwa aku…….., sebenarnya semua sahabatku menyarankan kalo aku seharusnya lebih dekat lagi dengan Radit, namun sampai saat ini Radit, belum bisa meyakinkanku akan perasaannya terhadapku, dan itu membuatku belum sepenuhnya mempercayai Radit.
3 Bulan berlalu, namun aku dan Radit masih tetap seperti ini, tidak ada perubahan yang berarti, Radit selalu menyampaikan, tentang perasaannya terhadapku, kepada sahabat-sahabatku, namun dia tidak pernah sekalipun secara gamblang mengakui perasaannya langsung kepadaku. Dan sekarang aku merasa bahwa kita sudah berada di ujung batas waktu, setelah Ujian dan kelulusan nanti tentu kita berdua pun akan berpisah, lantas bagaimana kita tahu tentang perasaan kita satu sama lain……
Tanpa terasa waktu pun terus berlalu ujian dan kelulusan pun tiba, dan kita, tentu saja masih sama seperti sebelumnya, tak ada perubahan, dan kini aku merasa keyakinanku akan perasaan Radit terhadapku pun semakin menurun, ‘jika keadaannya seperti ini, apa yang akan kamu lakukan dit’ aku menghela Nafas panjang, sambil duduk di balkon sekolah dan memperhatikan sahabat-sahabatku yang sedang berfoto-foto di acara Graduation ini, dan aku hanya diam.
Sampai dari kejauhan nampak Nara dan Dara berjalan ke arahku “kamu kok diem disini aja Na?” Dara tampak khawatir melihat aku yang hanya duduk saja, “ngga apa-apa kok” jawabku sambil tersenyum simpul, pada Dara dan Nara, “ekhm… Na, aku tau sesuatu yang bisa bikin kamu semangat lagi, dan ngga keliatan lesu kayak gini!” ucap Nara, aku pun hanya menggelengkan kepalaku, kemudian Nara memberikan sebuah kertas kepadaku “nih, kamu harus baca ini ya Na, tadi ada seseorang yang nitipin itu sama aku, buat dikasihin ke kamu, oh ya aku sama Dara kesana dulu ya!” Nara segera mengajak Dara bergegas dari hadapanku, “Dara, Nara tunggu….ini maksudnya apa!” teriakanku sungguh tidak dihiraukan oleh mereka berdua, lantas akhirnya aku pun mulai membaca tulisan yang ada didalam kertas itu….
Seperti sebuah keindahan yang sederhana,
Namun bagiku istimewa
Seperti sebuah kisah yang tak habis kuceritakan kepada petang
Juga seperti sebuah untaian mimpi,
Yang takkan pernah habis menjadi harapan
Dan itulah dirimu, yang tercipta dari secercah cahaya kecil,
Yang menjadikannya pelita untukku
With love,
Radit….
note: lihatlah ke belakangmu dan tersenyumlah ^_^ .
Setelah membaca tulisan yang tertera pada kertas itu, aku pun segera berbalik ke belakang, disaat itu pula aku melihat Radit yang tersenyum ke arahku.
And this the first time he can confess all his feelings to me…, and so do I… I can’t restrain this feeling any longer.
devinitasari"23.30