Selasa, 16 Oktober 2012

I Love My Family ^^

Diposting oleh Devi Yunitasari di 21.18 0 komentar
I miss them.....

Me, My Mom, and My Brother ^^ 




I want to meet them...........


Mom....... ^^




 Source of my spirit and happiness........


Smile :)

Recount......

Diposting oleh Devi Yunitasari di 06.18 0 komentar

The Day When My Blue Sky Faded to Grey

     August 25th, 2005 was the most grievous moment in my life. It had never crossed in my mind that all of a sudden, my dearest father would go away from my life. Two days before my father passed away, my mother and I were in Bandung to visit my aunt house. When I was talking with my mother in the porch of my aunt’s house, I asked my mother to call my father who worked in Cirebon to tell him about our plan to go to Jakarta on August 25th to visit my relative’s house. It was really a brief conversation, but at that moment I felt there was something wrong when my father said that my mother and I should visit him in Cirebon right after we came back from Jakarta.
Two days after the last time I talked with my father on the telephone, my mother and I went from Bandung to Jakarta by bus. It was just a usual trip, both of us didn’t feel worry or felt uneasy about anything during our trip to Jakarta. But around three hours after we arrived in Jakarta, my mother’s phone was ringing. I thought it was my father who was calling, but it was not him it was actually my uncle (my father’s older brother). I didn’t know why I suddenly thought that something terrible would appear that time and after my mother said the word ‘passed away’ on the telephone my body was shivering.
After my mother hung up the telephone, I hurriedly asked her who passed away that time. And my mother just patted my head gently and said, in a soft and low tone, that my dearest father had died. Right after hearing what my mother just said, I knelt down to the floor and my tears started to flow down continuously from my eyes. My mother who looked at my condition, hurriedly hugged me tightly, but she didn’t shed tears because she tried as hard as she could to keep strong in front of me.
One hour later, my mother decided to rent a car to go to Cirebon. Along the way I didn’t know what I was feeling that time, it was really hard to believe and I didn’t want to believe it. Soon after my mother and I arrived in Cirebon, my uncle told us that my father has been carried to Central Java, his hometown. So, my mother, I, along with my mother’s family from Cirebon went to Central Java.
After spending around two hours, we finally arrived at my father’s family house in Central Java. I saw so many people there, but I felt my heart was really hurt when I saw a yellow flag and a corpse car. I really couldn’t hold my tears not to flow from my eyes. Then my mother and I were told to see my father, when I entered the room that where my father was. I widen my eyes when I saw my father was laying stiffly and covered with ‘kain kafan’ (a white cloth that is usually used to cover a dead person). In that short moment, my memories with my father were flashing before my eyes. From the time when my father and I were spending time, laughing, and playing together, until the last time I talked with him two days ago. I really didn’t want to admit that my father had passed away, and I just wanted to think it as a nightmare, and I wanted to wake up soon from this nightmare.
Then, after my father’s funeral finished, I approached my uncle and asked him the reason why my father passed away. Because at that time, my uncle was the only one who accompanied my father when he took his last breath. He said that, at that time my father suddenly collapsed in his office. Then my father’s friends took him to the hospital and called my uncle to go to the hospital. In the hospital, my father’s condition was getting worse and worse, but before he took his last breath, he said to my uncle, that he apologized to me, my brother, and my mother and he said that he really loves me and his family. After hearing that story, my tears were flowing down again from my eyes and I felt like my heart was breaking into pieces because when my father was dying I didn’t there to pray or to give him strength.
I think that was the most grievous moment in my life. Now I just want to keep the memories between me and my father in my deepest heart, and I also will always pray for him.


  
Originally Created by: Devi Yunitasari


devinitasari "20.19

Essay : Pendidikan Mahal

Diposting oleh Devi Yunitasari di 06.12 0 komentar

Kasta Sekolah: Salah Satu Penyebab Biaya Pendidikan Mahal??

Oleh Devi Yunitasari

     Pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat penting bagi kehidupan setiap manusia. Selain itu, pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong terwujudnya perkembangan pembangunan suatu negara. Namun, belakangan ini marak sekali isu-isu negatif mengenai dunia pendidikan, khususnya di Indonesia. Salah satu isu yang saat ini menjadi sorotan utama dunia pendidikan di Indonesia ialah masalah biaya pendidikan yang mahal. Sebenarnya, masalah biaya penidikan yang mahal ini tidak seharusnya terjadi di Indonesia. Karena seperti yang sudah kita ketahui bersama, pemerintah sudah menggalangkan program BOS (Bantuan Operasional Sekolah) agar setiap warga Negara Indonesia mendapatkan pendidikan yang layak. 
    Namun pada kenyataan di lapangan, saya menilai bahwa isu tentang biaya pendidikan yang mahal, memang benar adanya. Sebagai salah satu bukti akan kebenaran isu tersebut, saya mengambil contoh tentang maraknya kemunculan sekolah-sekolah bertaraf internasional baik di jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), maupun Sekolah Menengah Atas (SMA). Kehadiran sekolah-sekolah rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) ataupun sekolah bertaraf internasional (SBI) tersebut, memang sangat penting untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia. Namun hal tersebut juga tentu menyebabkan munculnya kasta-kasta atau ketimpangan-ketimpangan antar sekolah-sekolah. Adanya kemunculan kasta di berbagai jenjang sekolah tersebut, tentu saja turut menyumbangkan kontribusi dalam masalah biaya pendidikan yang mahal, karena semakin elit atau semakin bergengsinya sekolah tersebut, maka biaya pendidikannya pun otomatis akan semakin mahal pula. Selain itu hal ini juga dapat memicu terkotak-kotaknya dunia pendidikan di Indonesia, sehingga akan muncul pandangan bahwa sarana dan prasarana pendidikan yang layak dan memadai hanya untuk golongan menengah ke atas saja, sedangkan golongan menegah ke bawah hanya bisa merasakan sarana dan prasarana pendidikan yang kurang memadai.
     Untuk lebih menguatkan bukti akan kebenaran isu biaya pendidikan yang mahal tersebut, saya mengambil contoh dari keadaan sekolah-sekolah di kota kelahiran saya Ciamis. Di daerah Ciamis sendiri, rintisan sekolah-sekolah yang bertaraf internasional, dari jenjang SMP dan SMA belakangan ini juga semakin marak bermunculan. Tentu saja sekolah-sekolah yang menyandang predikat RSBI/SBI tersebut memiliki prestise atau kedudukan yang relatif lebih tinggi diantara sekolah-sekolah lainnya di Kabupaten Ciamis. 
     Lebih jauh, saya mengambil contoh yang lebih spesifik. Salah satu sekolah negeri berpredikat RSBI, yang berlokasi di Kota Ciamis, menarik biaya dana sumbangan pendidikan (DSP) yang terbilang cukup mahal menurut pandangan sebagian besar orang tua siswa di daerah sekitar Ciamis. Karena nya, sebagian besar siswa baru yang mendaftar ke sekolah tersebut, berasal dari kalangan menengah keatas, sedangkan bagi siswa dari kalangan menengah ke bawah yang orang tua nya relatif tidak mampu membayar biaya pendidikan di sekolah rintisan bertaraf internasional tersebut, lebih memilih untuk bersekolah di sekolah biasa yang sarana dan prasarananya kurang memadai.
     Dari contoh bukti tersebut, saya menarik kesimpulan bahwa untuk meminimalisir biaya pendidikan yang mahal, dan menciptakan sekolah yang memiliki sarana dan prasarana yang memadai dan layak bagi setiap siswa dari semua kalangan, pihak kementrian pendidikan di Indonesia, seharusnya melakukan peninjauan kembali dan evaluasi atas kebjikan-kebijakan yang telah dilakukan, serta mengaudit dan mengevaluasi kembali sekolah-sekolah yang telah mendapat predikat RSBI atau SBI. Sehingga, hal tersebut dapat memudarkan pandangan-pandangan sebagian kalangan masyarakat yang menganggap bahwa biaya pendidikan itu mahal, serta pandangan sebagian kalangan masyarakat yang menganggap bahwa sarana prasarana yang layak dan memadai hanya untuk mereka yang mampu.  

 

Me, My world, and My Inspiration Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea